Oleh. Sugikaya
Perjalanan dengan kapal ferry, terutama di perairan yang bergelombang, menawarkan pengalaman yang unik. Selain menjadi sarana transportasi, perjalanan ini juga menyimpan banyak pelajaran hidup yang dapat kita renungkan.
*Perbatasan Daratan dan Laut: Titik Balik Kehidupan* Saat menaiki kapal ferry, kita akan melewati sebuah garis batas yang memisahkan daratan dan lautan. Momen ini bisa diibaratkan sebagai titik balik dalam kehidupan kita. Ketika kita memutuskan untuk melakukan perjalanan atau mengambil langkah baru, kita meninggalkan zona nyaman dan memasuki wilayah yang tidak pasti. Sama seperti ketika kita menaiki kapal, kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir dan jatuh ke laut.
*Petugas Parkir: Kepemimpinan dan Organisasi* Petugas parkir di kapal ferry memiliki peran yang sangat penting. Mereka mengatur lalu lintas kendaraan agar muatan kapal seimbang dan aman. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya kepemimpinan dan organisasi dalam sebuah sistem. Seorang pemimpin yang baik mampu mengatur dan mengarahkan orang-orang di bawahnya untuk mencapai tujuan bersama.
*Nahkoda: Kompas Kehidupan* Nahkoda adalah sosok yang sangat penting dalam sebuah kapal. Ia bertanggung jawab untuk mengarahkan kapal menuju tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kehidupan, kita juga membutuhkan kompas yang dapat menunjukkan arah yang benar. Kompas itu bisa berupa tujuan hidup, nilai-nilai moral, atau keyakinan agama.
*Pelampung Keselamatan: Persiapan Menghadapi Musibah* Adanya pelampung keselamatan di kapal ferry mengingatkan kita akan pentingnya persiapan menghadapi situasi darurat. Dalam kehidupan, kita juga perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Dengan mempersiapkan diri dengan baik, kita akan lebih siap menghadapi tantangan dan rintangan yang ada.
*Pemandangan Laut: Dinamika Kehidupan* Gelombang laut yang terus bergerak menggambarkan dinamika kehidupan yang penuh dengan pasang surut. Ada kalanya kita berada di puncak gelombang, merasa bahagia dan sukses. Namun, ada kalanya kita berada di lembah, merasa sedih dan putus asa. Sama seperti ombak, kehidupan juga terus bergerak dan berubah.
*Kisah Nabi: Pentingnya Saling Menasehati* Hadits Nabi yang diceritakan dalam artikel ini mengajarkan kita tentang pentingnya saling menasehati dan mencegah kemungkaran. Ketika kita melihat ada orang yang melakukan kesalahan, kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus berani menegur dan mengingatkan mereka agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang buruk.
Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا “Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang *berundi dalam sebuah kapal*. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).
Ibnu Hajar memberikan beberapa faedah terkait hadits di atas:
– Hadits tersebut berisi pelajaran bahwa hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum dikarenakan meninggalkan ingkarul mungkar atau merubah kemungkaran.
– Seorang yang berilmu bisa memberikan penjelasan dengan membawakan permisalan.
– Wajib bersabar terhadap kelakuan tetangga jika khawatir tertimpa bahaya yang lebih besar.
– Hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat oleh saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin melubangi kapal supaya bisa mendapat air. (Lihat Fathul Bari, 5: 296).
Faedah lainnya yang bisa diambil: 1- Meninggalkan kemungkaran tidak cukup pada individu saja, namun masyarakat secara umum.
2- Suatu negeri bisa saja ditimpa kehancuran atau kebinasaan gara-gara kemaksiatan yang dibiarkan begitu saja di tengah-tengah masyarakat tanpa ada yang mengingkari. Kemaksiatan dan kesyirikan.
3- Setiap kemungkaran yang diterjang oleh individu menjadi lubang yang berbahaya yang dapat menenggelamkan seluruh masyarakat.
4- Kebebasan manusia bukanlah mutlak, namun masih terkait atau memperhatikan keadaan orang sekitarnya.
5- Sebagian orang ada yang ingin mendatangkan maslahat, namun dengan cara atau ijtihad yang keliru. Maka wajib bagi yang berilmu mengingkari kekeliruan semacam ini.
6- Bolehnya melakukan undian (tanpa adanya taruhan) dalam masalah memilih tempat, ada yang di atas dan di bawah.
Kesimpulan Perjalanan dengan kapal ferry memberikan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan. Mulai dari pentingnya persiapan, kepemimpinan, kerjasama, hingga nilai-nilai moral. Dengan merenungkan pengalaman ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi segala tantangan hidup.
Perjalanan dengan kapal ferry, terutama di perairan yang bergelombang, menawarkan pengalaman yang unik. Selain menjadi sarana transportasi, perjalanan ini juga menyimpan banyak pelajaran hidup yang dapat kita renungkan.
*Perbatasan Daratan dan Laut: Titik Balik Kehidupan* Saat menaiki kapal ferry, kita akan melewati sebuah garis batas yang memisahkan daratan dan lautan. Momen ini bisa diibaratkan sebagai titik balik dalam kehidupan kita. Ketika kita memutuskan untuk melakukan perjalanan atau mengambil langkah baru, kita meninggalkan zona nyaman dan memasuki wilayah yang tidak pasti. Sama seperti ketika kita menaiki kapal, kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir dan jatuh ke laut.
*Petugas Parkir: Kepemimpinan dan Organisasi* Petugas parkir di kapal ferry memiliki peran yang sangat penting. Mereka mengatur lalu lintas kendaraan agar muatan kapal seimbang dan aman. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya kepemimpinan dan organisasi dalam sebuah sistem. Seorang pemimpin yang baik mampu mengatur dan mengarahkan orang-orang di bawahnya untuk mencapai tujuan bersama.
*Nahkoda: Kompas Kehidupan* Nahkoda adalah sosok yang sangat penting dalam sebuah kapal. Ia bertanggung jawab untuk mengarahkan kapal menuju tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kehidupan, kita juga membutuhkan kompas yang dapat menunjukkan arah yang benar. Kompas itu bisa berupa tujuan hidup, nilai-nilai moral, atau keyakinan agama.
*Pelampung Keselamatan: Persiapan Menghadapi Musibah* Adanya pelampung keselamatan di kapal ferry mengingatkan kita akan pentingnya persiapan menghadapi situasi darurat. Dalam kehidupan, kita juga perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Dengan mempersiapkan diri dengan baik, kita akan lebih siap menghadapi tantangan dan rintangan yang ada.
*Pemandangan Laut: Dinamika Kehidupan* Gelombang laut yang terus bergerak menggambarkan dinamika kehidupan yang penuh dengan pasang surut. Ada kalanya kita berada di puncak gelombang, merasa bahagia dan sukses. Namun, ada kalanya kita berada di lembah, merasa sedih dan putus asa. Sama seperti ombak, kehidupan juga terus bergerak dan berubah.
*Kisah Nabi: Pentingnya Saling Menasehati* Hadits Nabi yang diceritakan dalam artikel ini mengajarkan kita tentang pentingnya saling menasehati dan mencegah kemungkaran. Ketika kita melihat ada orang yang melakukan kesalahan, kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus berani menegur dan mengingatkan mereka agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang buruk.
Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا “Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang *berundi dalam sebuah kapal*. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).
Ibnu Hajar memberikan beberapa faedah terkait hadits di atas:
– Hadits tersebut berisi pelajaran bahwa hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum dikarenakan meninggalkan ingkarul mungkar atau merubah kemungkaran.
– Seorang yang berilmu bisa memberikan penjelasan dengan membawakan permisalan.
– Wajib bersabar terhadap kelakuan tetangga jika khawatir tertimpa bahaya yang lebih besar.
– Hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat oleh saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin melubangi kapal supaya bisa mendapat air. (Lihat Fathul Bari, 5: 296).
Faedah lainnya yang bisa diambil: 1- Meninggalkan kemungkaran tidak cukup pada individu saja, namun masyarakat secara umum.
2- Suatu negeri bisa saja ditimpa kehancuran atau kebinasaan gara-gara kemaksiatan yang dibiarkan begitu saja di tengah-tengah masyarakat tanpa ada yang mengingkari. Kemaksiatan dan kesyirikan.
3- Setiap kemungkaran yang diterjang oleh individu menjadi lubang yang berbahaya yang dapat menenggelamkan seluruh masyarakat.
4- Kebebasan manusia bukanlah mutlak, namun masih terkait atau memperhatikan keadaan orang sekitarnya.
5- Sebagian orang ada yang ingin mendatangkan maslahat, namun dengan cara atau ijtihad yang keliru. Maka wajib bagi yang berilmu mengingkari kekeliruan semacam ini.
6- Bolehnya melakukan undian (tanpa adanya taruhan) dalam masalah memilih tempat, ada yang di atas dan di bawah.
Kesimpulan Perjalanan dengan kapal ferry memberikan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan. Mulai dari pentingnya persiapan, kepemimpinan, kerjasama, hingga nilai-nilai moral. Dengan merenungkan pengalaman ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi segala tantangan hidup.

ConversionConversion EmoticonEmoticon