Oleh: Akhmad Sugiarto, S.Si
Guru IPA MTsN Batu
1.
Latar
Belakang
Hebat dan bermartabatnya Madrasah masih banyak yang meragukan, untuk
menipis hal tersebut maka Kementrian Agama Jawa Timur melalui bidang Pendidikan
Madrasah (PENMA) meluncurkan GERAMM ( Gerakan Ayo Membangun
Madrasah). GERAMM meliputi 7 hal, yaitu Gerakan Literasi Madrasah (GELEM),
Gerakan Madrasah Sehat (GEMES), Gerakan Madrasah Inovatif (GEMI), Gerakan
Furudhul Ainiyah (GEFA), Gerakan Peningkatan Kompetensi Guru (KATA SIGURU),
Gerakan Peningkatan Kompetensi Kepala Madrasah (KATA SIKAMAD), Gerakan Peningkatan
Kompetensi Pengawas (KATA SIAWAS).
Eksistensi Madrasaah sebagai institusi
pendidikan Islam sangat ditentukan dari hasil pendidikan (output) baik dari
segi pemikiran maupun budi pekertinya. Salah satu faktor yang menunjang
keberhasilan mencapai output yang berkualitas yaitu siswanya senang membaca dan
budi pekertinya bagus. Jika siswanya tidak memiliki kesenangan membaca buku, maka
prestasi belajar siswa juga tidak maksimal, secara perlahan tetapi pasti akan
mengalami degradasi, disprestasi, dan masyarakat akan meninggalkan. Kondisi
tersebut berarti gagal mengemban amanah Al Qur’an surat Al Alaq, Undang-undang
Dasar 1945 pasal 31, dan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Hasil yang demikian dapat dikatakan hanya konsep-konsep
ilusif yang sulit dipahami,dan dihargai oleh masyarakat. Penampakan dari hasil
proses membaca dan belajar dapat di lihat dari budi pekerti, perubahan tingkah
laku pada siswa.
Perubahan
tingkah laku pada seseorang dipengaruhi oleh pemahamannya, sedangkan pemahaman yang
dibarengi dengan proses berpikir dipengaruhi oleh informasi, ilmu yang di
dapatnya. Tidak diragukan lagi bahwa proses berpikir
sebagai sebuah aktivitas manusia. Dalam proses ini, seorang individu
mengirimkan hasil penginderaannya terhadap sebuah realitas ke dalam otak
melalui alat-alat indera, dan kemudian menghubungkan hasil penginderaannya itu
dengan informasi awal tentang realitas tersebut, hingga menghasilkan sesuatu
yang disebut pemikiran. Dengan demikian, harus ada sebuah realitas yang dapat
diindera oleh seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga
realitas tersebut dapat dikirimkan ke otak melalui salah satu alat indera.
Namun demikian, pemikiran tidak akan diperoleh hanya dengan penginderaan
semata. Pemikiran hanya akan didapatkan dengan jalan mengaitkan hasil
penginderaan ini dengan informasi awal yang dimiliki manusia mengenai realitas
yang dihadapi tersebut. Proses berpikir tidak hanya terjadi melalui refleksi
realitas (fakta) ke otak, artinya bukan menganggap materi/fakta itu ada lebih
dahulu daripada pemikiran, sehingga realitas atau materi dianggap sebagai
sumber kebudayaan, peradaban, tatanan masyarakat, serta kesadaran; dan semua
itu mengalami evolusi seiring dengan perubahan materi.
Pendapat semacam itu jelas merupakan pendapat yang keliru, karena
keberadaan realitas dan otak saja tidak cukup untuk menghasilkan pemikiran.
Sekalipun kedua elemen ini bisa menghasilkan penyerapan, akan tetapi penyerapan
sama sekali berbeda dengan pemikiran. Penyerapan tidak hanya terjadi pada
manusia, namun juga terjadi pada hewan. Namun demikian, manusia mempunyai
karakteristik yang berbeda dari hewan, karena manusia mempunyai kemampuan untuk
mengaitkan hasil penginderaan atau penyerapan tersebut dengan informasi awal, sehingga
diperoleh suatu pemikiran baru.
Proses berpikir
dalam pengertian ini bersifat universal, sebagaimana proses berjalan atau
makan. Akan tetapi, masing-masing umat manusia mengadopsi keyakinan yang
berbeda-beda; dan karena keyakinan yang diadopsi akan menentukan cara berpikir
seorang manusia, maka keyakinan di sini berfungsi sebagai kerangka atau
paradigma berpikir seseorang, yang menentukan pandangannya dan tindakaannyaa
terhadap kehidupan.
Tidak diragukan lagi bahwa proses berpikir sebagai sebuah aktivitas manusia
merupakan sesuatu yang umum bagi seluruh manusia. Dalam proses ini, seorang
individu mengirimkan hasil penginderaannya terhadap sebuah realitas ke dalam
otak melalui alat-alat indera, dan kemudian menghubungkan hasil penginderaannya
itu dengan informasi awal tentang realitas tersebut, hingga menghasilkan
sesuatu yang disebut pemikiran. Dengan demikian, harus ada sebuah realitas yang
dapat diindera oleh seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung
sehingga realitas tersebut dapat dikirimkan ke otak melalui salah satu alat
indera, misalnya membaca.
Madrasah yang menjadi harapan masyarakat dalam memfilter
berbagai dampak negatif dari perubahan kehidupan masyarakat. Madrasah menjadi
pilar dan barometer prestasi pendidikan, maka dapat di lihat berdasar hasil
pengamatan terhadap kebiasaan yang
dilakukan oleh semua citivitas Madrasah dalam minat membaca, beribadah dan budi pekerti dalam
kehidupan sehari hari.
2.
Proses Pelaksanan Program Literasi
Sekolah atau Madrasah yang masih mencoba mencari pola yang bagus
dalam merealisasikan visi misinya dan mencoba memenuhi beraneka ragam keinginan masyarakat. Sedangkan Madrasah yang sudah menjadi
pilihan utama masyarakat melakukan pembenahan mulai managemen, sumber daya
manusianya, maupun sarana prasarana.
Managemen yang di
komandani kepala madrasah dan di bantu oleh 4 wakil kepala, berusaha secara optimal untuk memenuhi 8
standar yang di tetapkan permerintah termasuk dalam budaya literasi. Budaya literasi sangat erat kaitannya dengan
sumber daya yang ada sebagai pelaku utama dan sarana prasana sebagai jembatan
untuk meraih apa yang di inginkan oleh para sumber daya manusia yang
melakukannya.
Kepala madrasaah
sebagai pemegang komando dalam pelaksanaan
literasi di madrasah melakukan langkah langkah seperti memberikan kepercayaan
pada 4 wakil kepala madrasah untuk
membuat program kerja untuk meraih visi misi madrasah. Seperti
1.
Pembuatan jadwal yang mencantumkan wajib sholat dhuha dan
ngaji selama 20 menit sebelum pembelajaran di mulai. Ini dilakukan setiap hari siswa di minta ke masjid untuk melaksanakan
sholat dhuha, dimana mereka sudah diminta berwudhu dari rumah. Pembiasaan
semacam ini dilakukan agar siswa sudah terlatih menjaga wudhu. Selesai
melaksanakan sholat dhuha siswa diwajibkan ke kelas masing masing dan membaca
al Qur’an di dampingi oleh guru yang mengajar jam pertama.
2.
Pembuatan jadwal yang
mencantumkan 1 jam pelajaran wajib baca yang di dampingi oleh wali kelas, wali
kelas bekerja sama dengan kepala perpustakaan memberikan 1 buku kecil yang
dipergunakan untuk merangkum hasil baca setiap siswa dimana setiap bulan dikumpulkan
diperpustakaan.
3.
Kurikulum bekerjasama dengan waka Prasarana membuat lemari
pojok baca, mading di tempat tempat strategis dan papan kreasi di setiap kelas,
yang bertujuan memajang setiap kreasi yang di hasilkan siswa.
4.
Kerjasama antara waka kurikulum, waka kesiswaan dan kepala perpustakaan
mengadakan bulan bahasa dan claas meeting . Bulan bahasa dan claas meeting
inilah menjadi ajang bagi siswa untuk menyalurkan kebiasaan dan bakat minatnya
yang selama ini di miliki. Mulai menulis, menggambar, lagu, nasyid, mengaji, kreasifoto,
puisi, pembuatan bahan daur ulang, olah raga dan lain lain.

5. WakaKurikulum dan Waka Humas Melakukan kerjasama pelatihan penulisan
Karya Ilmiah. Tujuan dari kerjasama ini
para guru terbiasa dengan melakukan
menulis seperti PTK.
Pelaksanaan literasi di Madrasah tentunya tidak berjalan secara
sempurna masih ada kekurangan disana sini seperti
1. Pelaksanaan sholat dhuha yang dilakukan serentak masih ditemukan siswa
yang terlambat dan masih berwudhu di madrasah
2. Siswa dalam membaca kurang fokus, suasana kelas yang ramai ketika tidak
ada wali kelas yang tidak masuk, hasil rangkuman siswa yang tidak optimal
bahkan ada yaang tidak menulis hasil apa yang dibaca. Ini semua terjadi karena buku yang di sediakan
perpustakaan tidak sesuai di kesenangan mereka.
3.Penggunaan mading yang siklus/pergantiaan tulisan yang tidak terjadwal,
penggunaan papan pajang yang kurang optimal dimana tidak semua guru melakukan
pembelajaran yang membuat siswa kreatif.
4. Dalam ajang bulan bahasa dan claas Meeting tidak semua siswa ikut tampil
dalam pelaksanaan ini karena yang dilombakan berdasarkan perwakilan kelas.
5. Pelaksanaan pembiasaan guru menulis memang cukup berat karena biasanya
semangat diawal selesai pelatihan setelah itu disibukkan dengan kemalasan dan
pekerjaaan guru yang lainnya.
3.
Hasil program litrasi
Berbagai program literasi yang di lakukan di madrasah adalah program yang mengarah kepada budaya
baca, budaya literatur, budaya olah vokal, budaya pembiasaan, budaya
kreatifitas.
Hasil pengamatan sementara dengan berbagai kelemahannya untuk di evaluasi
ternyata menghasilkan suatu yang betul betul yang diharapkan oleh guru maupun
orang tua. Banyak diantara siswa madrasah yang meraih juara di berbagai perlombaan, praktik ibadah
di sekolah maupun di rumahnya yang berjalan tanpa diperintahkan. Budaya baca
diperpustakaan yang mulai meningkat, Budaya baca di rumah meningkat. Bahkan
informasi yang masuk ke humas madrasah ada siswa yang sejak menjadi wartawan
ternyata sejak di madrasah menjadi pengurus OSIS,
ikut Jurnalistik, Ikut Karya Ilmiah. Ada yang sudah menjadi Dai/pencermah,
Komikus, penyanyi, dan sebagainya.
4.
Rencana Pengembangan Literasi
Melihat program kerja literasi yang sudah berjalan dan mengahasilkan
sesuatu yang membanggakan lembaga maka kami akan melanjutkan program tersebut
dan bahkan akan dioptimalkan dengan berbagai program yang mendukung seperti
a.
Cafe Baca.
Yaitu menyediakan kereta baca di halaman madarasah diamana sudah disediakan pula tempat duduk
yang enak dan makanan ringan, harapannya siswa menikmati kereta baca yang sudah disediakan buku sambil nyantai makan
makanan ringan
b.
Sulap Sciens.
Siswa dengan bimbingan guru khususnya guru IPA menbuat media media yang
dapat di pertontonkan dengan model sulap, media ini membuat siswa tertarik
belajar dan mempraktikkan sehingga pembelajaran menyenangkan.
Ini sudah dilakukan tapi kurang
optimal seperti sualp kapal selam, sulap menggerakan tanpa disentuh dll
https://youtu.be/7befjGww6oA
c.
Laporan Bebas Menyenangkan
Dalam pelaksanan literasi baik berupa tugas khususnya laporan selesai praktik yang selama ini ada dianggap
terlalu kaku karena sesuai pakem. Namun dengan program ini siswa diminta
membuat laporan tugas sedangkan esensi dari tugas tersampaikan. Siswa bisa
membuaat berupa puisi, berupa prosa, berusa komic, berupa lagu, berupa video,
berupa pantun dan lain sebaginya.
Program ini sudah saya lakukan terhadap siswa di saya ajar, harapannya
semua guru bisa melakukannya
d.
Pembelajaran Rekreatif
Waka Kurikulum dan Waka Humas bekerjasama dengan
pengelola tempat rekreasi dengan mengadakan pembelajaran puncak tema maupun pembelajaran edukatif rekreatif.
Pembelajaran ini dilakukan diluar kelas yakni di tempaat rekreasi dimana setiap
guru memberikan tugas kepada seluruh siswa untuk melakukan tugas sesuai
tuntutan KD pada setiap mata pelajaran.
Mulai merangkum, menghitung, mendata, membuat puisi, mengarang, menfoto, dan
lain lain yang di kumpulkan 1 pekan setelah pembelajaran rekreatif.
e.
Pembuatan Media Game Pembelajaran
Dunia sudah
tidak lepas dari teknologi khususnya HP Androin. Guru maupun siswa tidak bisa
menghindar 100% dari benda ini. Maka
untuk menyalurkan kegemaran mereka guru bisa membuat game sederhana yang berisi
tentang tema tertentu sesuai KD, baik berupa tebak gambar, menyambung kata,
ular tangga, rantai makanan dan lain sebagainya
Semoga dengan berbagai gerakan ini, khususnya
dalam literasi maka Madrasah akan menjadi hebat bermartabat. Maka mari lakukan
GERAMM secara optimal.
2 komentar
Click here for komentarMantap pak, semoga di madrasah kami bisa mengikuti jejaknya
ReplyTerima kasih bu, madrasah mana bu
ReplyConversionConversion EmoticonEmoticon