*JERITAN HATI SEORANG IBU*
Oleh : Nasrudin Joha
Anaku, ibu telah memilih ayahmu sebagai pendampingku. Telah siap melepas masa gadisku, untuk menyempurnakan agama ayahmu, juga untuk menetapi Sunnah nabi kita.
Nak, ayahmu ketika datang, tidak berbeda ketika pergi meninggalkan kita. Dia, selalu pergi satu diantara dalam dua keadaan : mencari nafkah atau berdakwah.
Nak, ibumu ini telah rela, menjadi orang belakang yang tdk dikenal, demi untuk mengemban amanah mengasuh dan mendidikmu. Masa lajang itu telah ibu tinggalkan dengan penuh ridla, untuk mendampingi ayahmu, hingga engkau datang berikut adik-adikmu.
Nak, ibumu telah ridlo dalam kepayahan mengasuhmu. Dalam waktu yang bersamaan, aku juga melayani ayahmu, suamiku yang aku dahulu telah dipinang olehnya dengan janji surga.
Anaku, aku tiada mengeluh dan akan terus berusaha untuk menahan diri agar tidak pernah mengeluh, semata mata mengharap ridlo Allah, Rab semesta Alam. Kepayahanku mendidikmu, juga melayani ayahmu, adalah dalam rangka taat kepada-Nya, untuk maraih surga-Nya, dimana aku, ayahmu, engkau dan adikmu, kita semua, ingin tinggal dan hidup kekal di surga.
Aku telah ridlo, menjadi wanita biasa, yang mengemban misi sebagai ibu dan mengurusi rumah tangga. Aku telah ridlo, setia setiap saat dan taat kepada ayahmu, telaten merawatnya, agar kita semua menjadi keluarga yang bahagia karena taat kepada-Nya.
Aku bahagia, dapat selalu menyiapkan sarapan, untukmu dan adik-adikmu, sarapan ayahmu, ketika kalian hendak pergi sekolah, ketika ayah kalian hendak pergi bekerja atau berdakwah. Ibu Rindu, kelak suatu saat, aku mempersiapkan sesuatu untuk kalian, tapi bukan untuk pergi sekolah atau bekerja.
Aku rindu, mempersiapkan kebutuhan kalian, dirimu, adik adikmu, juga ayahmu, untuk pergi berjihad membebaskan kota Roma, menbebaskan Palestina, menyelamatkannya dari penghambaan kepada makhluk, menuju menghamba kepada Allah SWT semata.
Diantara datangnya kabar ditaklukannya kota Roma, pembebasan Palestina, aku menunggu-nunggu kabar syahidnya dirimu, adik adikmu, juga ayahmu, di medan penaklukkan kota Roma. Setelah itu, aku juga berkeinginan kuat, mendatangi penaklukkan kota lainnya, dan berharap segera Syahid menyusul kalian, sebagainya ibunda Khonsa menyusul putera-puteranya.
Namun, kota Roma tak mungkin ditaklukan jika kaum muslimin tidak memiliki negara, Palestina mustahil dibebaskan jika umat ini terpecah belah, tidak memiliki khilafah. Karenanya, saat ini, diriku dan ayahmu, terus berjuang untuk mewujudkan nubuwat khilafah yang kedua. Setelah itu, engkau dan ayahmu menggenapi kesempurnaan agama ini, dengan menyempurnakan nubuwah penaklukkan kota Roma.
Anaku, pesanku, juga apa yang telah dipesankan ayahmu kepada kalian, jika kelak kami telah mampu mendirikan kekhilafahan yang kedua, saat Kota Roma belum ditaklukan, sementara ajal telah menjemputku dan ayahmu, jangan lupa wasiat ayah : genapi perjuangan kami, dengan pergi menaklukkan kota Roma.
Anaku, ibu ridlo untuk menahan sakit, menahan kekurangan, menahan rasa capek dan sulitnya mengurusi anak dan melayani suami, semata karena mengharap pahala dari Allah SWT. Anaku, jadilah Qurrota A'yun, jadilah permata hati kami, jadilah pejuang Islam yang menaklukkan kota Roma. [].
Oleh : Nasrudin Joha
Anaku, ibu telah memilih ayahmu sebagai pendampingku. Telah siap melepas masa gadisku, untuk menyempurnakan agama ayahmu, juga untuk menetapi Sunnah nabi kita.
Nak, ayahmu ketika datang, tidak berbeda ketika pergi meninggalkan kita. Dia, selalu pergi satu diantara dalam dua keadaan : mencari nafkah atau berdakwah.
Nak, ibumu ini telah rela, menjadi orang belakang yang tdk dikenal, demi untuk mengemban amanah mengasuh dan mendidikmu. Masa lajang itu telah ibu tinggalkan dengan penuh ridla, untuk mendampingi ayahmu, hingga engkau datang berikut adik-adikmu.
Nak, ibumu telah ridlo dalam kepayahan mengasuhmu. Dalam waktu yang bersamaan, aku juga melayani ayahmu, suamiku yang aku dahulu telah dipinang olehnya dengan janji surga.
Anaku, aku tiada mengeluh dan akan terus berusaha untuk menahan diri agar tidak pernah mengeluh, semata mata mengharap ridlo Allah, Rab semesta Alam. Kepayahanku mendidikmu, juga melayani ayahmu, adalah dalam rangka taat kepada-Nya, untuk maraih surga-Nya, dimana aku, ayahmu, engkau dan adikmu, kita semua, ingin tinggal dan hidup kekal di surga.
Aku telah ridlo, menjadi wanita biasa, yang mengemban misi sebagai ibu dan mengurusi rumah tangga. Aku telah ridlo, setia setiap saat dan taat kepada ayahmu, telaten merawatnya, agar kita semua menjadi keluarga yang bahagia karena taat kepada-Nya.
Aku bahagia, dapat selalu menyiapkan sarapan, untukmu dan adik-adikmu, sarapan ayahmu, ketika kalian hendak pergi sekolah, ketika ayah kalian hendak pergi bekerja atau berdakwah. Ibu Rindu, kelak suatu saat, aku mempersiapkan sesuatu untuk kalian, tapi bukan untuk pergi sekolah atau bekerja.
Aku rindu, mempersiapkan kebutuhan kalian, dirimu, adik adikmu, juga ayahmu, untuk pergi berjihad membebaskan kota Roma, menbebaskan Palestina, menyelamatkannya dari penghambaan kepada makhluk, menuju menghamba kepada Allah SWT semata.
Diantara datangnya kabar ditaklukannya kota Roma, pembebasan Palestina, aku menunggu-nunggu kabar syahidnya dirimu, adik adikmu, juga ayahmu, di medan penaklukkan kota Roma. Setelah itu, aku juga berkeinginan kuat, mendatangi penaklukkan kota lainnya, dan berharap segera Syahid menyusul kalian, sebagainya ibunda Khonsa menyusul putera-puteranya.
Namun, kota Roma tak mungkin ditaklukan jika kaum muslimin tidak memiliki negara, Palestina mustahil dibebaskan jika umat ini terpecah belah, tidak memiliki khilafah. Karenanya, saat ini, diriku dan ayahmu, terus berjuang untuk mewujudkan nubuwat khilafah yang kedua. Setelah itu, engkau dan ayahmu menggenapi kesempurnaan agama ini, dengan menyempurnakan nubuwah penaklukkan kota Roma.
Anaku, pesanku, juga apa yang telah dipesankan ayahmu kepada kalian, jika kelak kami telah mampu mendirikan kekhilafahan yang kedua, saat Kota Roma belum ditaklukan, sementara ajal telah menjemputku dan ayahmu, jangan lupa wasiat ayah : genapi perjuangan kami, dengan pergi menaklukkan kota Roma.
Anaku, ibu ridlo untuk menahan sakit, menahan kekurangan, menahan rasa capek dan sulitnya mengurusi anak dan melayani suami, semata karena mengharap pahala dari Allah SWT. Anaku, jadilah Qurrota A'yun, jadilah permata hati kami, jadilah pejuang Islam yang menaklukkan kota Roma. [].
ConversionConversion EmoticonEmoticon