Pengembangan Literasi di Madrasah Tsanawiyah Negeri Batu
Oleh: Akhmad Sugiarto, S.Si
Guru IPA MTsN Batu
1. Latar Belakang
Eksistensi Madrasaah Negeri Batu sebagai institusi pendidikan Islam sangat ditentukan dari hasil pendidikan (output) baik dari segi pemikiran maupun budi pekertinya. Salah satu faktor yang menunjang keberhasilan mencapai output yang berkualitas yaitu siswanya senang membaca dan budi pekertinya bagus. Jika siswanya tidak memiliki kesenangan membaca buku, maka prestasi belajar siswa juga tidak maksimal, secara perlahan tetapi pasti akan mengalami degradasi, disprestasi, dan masyarakat akan meninggalkan. Kondisi tersebut berarti gagal mengemban amanah Al Qur’an surat Al Alaq, Undang-undang Dasar 1945 pasal 31, dan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hasil yang demikian dapat dikatakan hanya konsep-konsep ilusif yang sulit dipahami,dan dihargai oleh masyarakat. Penampakan dari hasil proses membaca dan belajar dapat di lihat dari budi pekerti, perubahan tingkah laku pada siswa.
MTsN Kota Batu adalah madrasah yang berada di kota wisata batu. Sebuah kota yang berlabelkan kota wisata maka menjadi magnet dari berbagai lapisan masyarakat untuk datang ke kota Batu. Kedatangan mereka tentunya tidak semuanya berdampak positif terhadap kehidupan sosial masyarakat kota Batu. Masyarakat sebagai kumpulan individu individu akan saling mempengaruhi antar individu satu dengan individu yang lainnya. Interaksi individu yang mempunyai pola piker yang berbeda akan mempengaruhi pola sikap sikap yang berbeda pula. Perubahan pola pikir, tingkah di dalam masyarakat sangat mempengaruhi terhadap kehidupan masyarakat terpelajar, termasuk para siswa khususnya siswa MTsN Batu.
Perubahan tingkah laku pada seseorang dipengaruhi oleh pemahamannya, sedangkan pemahaman yang dibarengi dengan proses berpikir dipengaruhi oleh informasi, ilmu yang di dapatnya. Tidak diragukan lagi bahwa proses berpikir sebagai sebuah aktivitas manusia. Dalam proses ini, seorang individu mengirimkan hasil penginderaannya terhadap sebuah realitas ke dalam otak melalui alat-alat indera, dan kemudian menghubungkan hasil penginderaannya itu dengan informasi awal tentang realitas tersebut, hingga menghasilkan sesuatu yang disebut pemikiran. Dengan demikian, harus ada sebuah realitas yang dapat diindera oleh seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga realitas tersebut dapat dikirimkan ke otak melalui salah satu alat indera.
Namun demikian, pemikiran tidak akan diperoleh hanya dengan penginderaan semata. Pemikiran hanya akan didapatkan dengan jalan mengaitkan hasil penginderaan ini dengan informasi awal yang dimiliki manusia mengenai realitas yang dihadapi tersebut. Proses berpikir tidak hanya terjadi melalui refleksi realitas (fakta) ke otak, artinya bukan menganggap materi/fakta itu ada lebih dahulu daripada pemikiran, sehingga realitas atau materi dianggap sebagai sumber kebudayaan, peradaban, tatanan masyarakat, serta kesadaran; dan semua itu mengalami evolusi seiring dengan perubahan materi.
Pendapat semacam itu jelas merupakan pendapat yang keliru, karena keberadaan realitas dan otak saja tidak cukup untuk menghasilkan pemikiran. Sekalipun kedua elemen ini bisa menghasilkan penyerapan, akan tetapi penyerapan sama sekali berbeda dengan pemikiran. Penyerapan tidak hanya terjadi pada manusia, namun juga terjadi pada hewan. Namun demikian, manusia mempunyai karakteristik yang berbeda dari hewan, karena manusia mempunyai kemampuan untuk mengaitkan hasil penginderaan atau penyerapan tersebut dengan informasi awal, sehingga diperoleh suatu pemikiran baru.
Proses berpikir dalam pengertian ini bersifat universal, sebagaimana proses berjalan atau makan. Akan tetapi, masing-masing umat manusia mengadopsi keyakinan yang berbeda-beda; dan karena keyakinan yang diadopsi akan menentukan cara berpikir seorang manusia, maka keyakinan di sini berfungsi sebagai kerangka atau paradigma berpikir seseorang, yang menentukan pandangannya dan tindakaannyaa terhadap kehidupan.
Tidak diragukan lagi bahwa proses berpikir sebagai sebuah aktivitas manusia merupakan sesuatu yang umum bagi seluruh manusia. Dalam proses ini, seorang individu mengirimkan hasil penginderaannya terhadap sebuah realitas ke dalam otak melalui alat-alat indera, dan kemudian menghubungkan hasil penginderaannya itu dengan informasi awal tentang realitas tersebut, hingga menghasilkan sesuatu yang disebut pemikiran. Dengan demikian, harus ada sebuah realitas yang dapat diindera oleh seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga realitas tersebut dapat dikirimkan ke otak melalui salah satu alat indera, misalnya membaca.
MTsN Batu adalah madrasah yang menjadi harapan masyarakat dalam memfilter berbagai dampak negatif dari perubahan kehidupan masyarakat. MTsN menjadi pilar dan barometer prestasi pendidikan di kota Batu, maka dapat di lihat berdasar hasil pengamatan terhadap kebiasaan yang dilakukan oleh semua citivitas MTsN dalam minat membaca, beribadah dan budi pekerti dalam kehidupan sehari hari.
2. Proses Pelaksanan Program Literasi
MTsN Batu adalah madrasah yang baru berdiri 13 tahun yang lalu tepatnya tahun 2004. Madrasah yang masih mencari pola yang bagus dalam merealisasikan visi misinya ini mencoba memenuhi beraneka ragam keinginan masyarakat. Madrasah yang sudah menjadi pilihan utama masyarakat kota batu melakukan pembenahan mulai managemen, sumber daya manusianya, maupun sarana prasarana.
Managemen yang di komandani kepala madrasah dan di bantu oleh 4 wakil kepala, berusaha secara otimal untuk memenuhi 8 standar yang di tetapkan permerintah ternasuk dalam budaya literasi. Budaya liteerasi sangat erat kaitannya dengan sumber daya yang ada sebaagai pelaku utama dan sarana prasana sebagai jembatan untuk meraih apa yang di inginkan oleh para sumber daya manusia yang melakukannya.
Kepala madrasaah sebagai pemegang komandu dalam pelaksanaan literasi di madrasah melakukan langkah langkah seperti memberikan kepercayaan pada 4 wakil kepala madrasah untuk membuat program kerja untuk meraih visi misi madrasah. Waka kurikulum membuat program
1. Pembuatan jadwal yang mencantumkan wajib sholat dhuha dan ngaji selama 20 menit sebelum pembelajaran di mulai. Ini dilakukan setiap hari siswa di minta ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuha, dimana mereka sudah diminta berwudhu dari rumah. Pembiasaan semacam ini dilakukan agar siswa sudah terlatih menjaga wudhu. Selesai melaksanakan sholat dhuha siswa diwajibkan ke kelas masing masing dan membaca al Qur’an di dampingi oleh guru yang mengajar jam pertama.
2. Pembuatan jadwal yang mencantumkan 1 jam pelajaran wajib baca yang di dampingi oleh wali kelas, wali kelas bekerja sama dengan kepala perpustakaan memberikan 1 buku kecil yang dipergunakan untuk merangkum hasil baca setiap siswa dimana setiap bulan dikumpulkan diperpustakaan.
3. Kurikulum bekerjasama dengan waka Prasarana membuat lemari pojok baca, mading di tempat tempat strategis dan papan kreasi di setiap kelas, yang bertujuan memajang setiap kreasi yang di hasilkan siswa.
4. Kerjasama antara waka kurikulum, waka kesiswaan dankepala perpustakaan mengadakan bulan bahasa dan claas meeting . Bulan bahasa dan claas meeting inilah menjadi ajang bagi siswa untuk menyalurkan kebiasaan dan bakat minatnya yang selama ini di miliki. Mulai menulis, menggambar, lagu, nasyid, mengaji, kreasifoto, puisi, pembuatan bahan daur ulang, olah raga dan lain lain.
5. WakaKurikulum dan Waka Humas Melakukan kerjasama pelatihan penulisan Karya Ilmiah ke UIN atau ke UM.
Tujuan dari kerjasama ini para guru terbiasa dengan melakukan menulis seperti PTK.
Pelaksanaan literasi di MTsN Batu tentunya tidak berjalan secara sempurna masih ada kekurangan disana sini seperti
1. Pelaksanaan sholat dhuha yang dilakukan serentak masih ditemukan siswa yang terlambat dan masih berwudhu di madrasah
2. . Siswa dalam membaca kurang fokus, suasana kelas yang ramai ketika tidak ada wali kelas yang tidak masuk, hasil rangkuman siswa yang tidak optimal bahkan ada yaang tidak menulis hasil apa yang dibaca. Ini semua terjadi karena buku yang di sediakan perpustakaan tidak sesuai di kesenangan mereka.
3. Penggunaan mading yang siklus/pergantiaan tulisan yang tidak terjadwal, penggunaan papan pajang yang kurang optimal dimana tidak semua guru melakukan pembelajaran yang membuat siswa kreatif.
4. Dalam ajang bulan bahasa dan claas Meeting tidak semua siswa ikut tampil dalam pelaksanaan ini karena yang dilombakan berdasarkan perwakilan kelas.
5. Pelaksanaan pembiasaan guru menulis memang cukup berat karena biasanya semangat diawal selesai pelatihan setelah itu disibukkan dengan kemalasan dan pekerjaaan guru yang lainnya.
3. Hasil program litrasi
Berbagai program literasi yang di lakukan di MTsN Batu adalah program yang mengarah kepada budaya baca, budaya literatur, budaya olah vokal, budaya pembiasaan, budaya kreatifitas.
Hasil pengamatan sementara dengan berbagai kelemahannya untuk di evaluasi ternyata menghasilkan suatu yang betul betul yang diharapkan oleh guru maupun orang tua. Banyak diantara siswa MTsN Batu yang meraih juara di berbagai perlombaan, praktik ibadah di sekolah maupun di rumahnya yang berjalan tanpa diperintahkan. Buadaya baca diperpustakaan yang mulai meningkat, Buadaya baca di rumah meningkat. Bahkan informasi yang masuk ke humas madrasah ada siswa yang sejak menjadi wartawan ternyata sejak di MTsN menjadipengurus OSIS, ikut Jurnalistik, Ikut Karya Ilmiah. Ada yang sudah menjadi Dai/pencermah, Komikus, penyanyi, dan sebagainya.
4. Rencana Pengembangan Literasi
Melihat program kerja literasi yang sudah berjalan dan mengahasilkan sesuatu yang membanggakan lembaga maka kami akan melanjutkan program tersebut dan bahkan akan dioptimalkan dengan berbagai programyang mendukung seperti
a. Cafe Baca.
Yaitu menyediakan kereta baca di halaman madarasah diamana sudah disediakan pula tempat duduk yang enak dan makanan ringan, harapannya siswa menguncikereta baca yang sudah disediakan buku sampai nyantai makan makanan ringan
b. Sulap Sciens. 

Siswa dengan bimbingan guru khususnya guru IPA menbuat media media yang dapat di pertontonkan dengan model sulap, media ini membuat siswa tertarik belajar dan mempraaktikkan sehingga pembelajaran menyenangkan.
Ini sudah dilakukan tapi kuraang optimal seperti sualp kapal selam, sulap menggerakan tanpa disentuh dll
c. Laporan Bebas Menyenangkan
Dalam pelaksanan literasi baik berupa tugas khususnya laporan selesai pratik yang selama ini ada dianggap terlalu kaku karena sesuai pakem. Namun dengan program ini siswa diminta membuat laporan tugas sedangkan esensi dari tugas tersampaikan. Siswa bisa membuaat berupa puisi, berupa prosa, berusa komic, berupa lagu, berupa video, berupa pantun dan lain sebaginya.
Program ini sudah saya lakukan terhadap siswa di saya ajar, harapannya semua guru bisa melakukannya
d. Pembelajaran Rekreatif
Kota Batu adalah kota Wisata baaik alam maupun buatan. Waka Kurikulum dan Waka Humas bekerjasama dengan pengelola tempat rekreati dengan mengadakan pembelajaran puncak tema maupun pembelajaran educatif rekreatif. Pembelajaran ini dilakukan diluar kelas yakni di tempaat rekreasi dimana setiap guru memberikan tugas kepada seluruh siswa untuk melakukan tugas sesuai tuntutan KD pada setiap mata pelajaran. Mulai merangkum, menghitung, mendata, membuat puisi, mengarang, menfoto, dan lain lain yang di kumpulkan 1 pekan setelah pembelajaran rekreatif.
e. Pembuatan Media Game Pembelajaran
Dunia sudah tidak lepas dari teknologi khususnya HP Androin. Guru maupun siswa tidak bisa menghindar 100% dari bneda ini. Maka untuk menyalurkan kegemaran mereka guru bisa membuat game sederhana yang berisi tentang tema tertentu sesuai KD, baik berupa tebak gambar, menyambung kata, ular tangga, rantai makanan dan lain sebagainya
Siswa dengan bimbingan guru khususnya guru IPA menbuat media media yang dapat di pertontonkan dengan model sulap, media ini membuat siswa tertarik belajar dan mempraaktikkan sehingga pembelajaran menyenangkan.
Ini sudah dilakukan tapi kuraang optimal seperti sualp kapal selam, sulap menggerakan tanpa disentuh dll
c. Laporan Bebas Menyenangkan
Dalam pelaksanan literasi baik berupa tugas khususnya laporan selesai pratik yang selama ini ada dianggap terlalu kaku karena sesuai pakem. Namun dengan program ini siswa diminta membuat laporan tugas sedangkan esensi dari tugas tersampaikan. Siswa bisa membuaat berupa puisi, berupa prosa, berusa komic, berupa lagu, berupa video, berupa pantun dan lain sebaginya.
Program ini sudah saya lakukan terhadap siswa di saya ajar, harapannya semua guru bisa melakukannya
d. Pembelajaran Rekreatif
Kota Batu adalah kota Wisata baaik alam maupun buatan. Waka Kurikulum dan Waka Humas bekerjasama dengan pengelola tempat rekreati dengan mengadakan pembelajaran puncak tema maupun pembelajaran educatif rekreatif. Pembelajaran ini dilakukan diluar kelas yakni di tempaat rekreasi dimana setiap guru memberikan tugas kepada seluruh siswa untuk melakukan tugas sesuai tuntutan KD pada setiap mata pelajaran. Mulai merangkum, menghitung, mendata, membuat puisi, mengarang, menfoto, dan lain lain yang di kumpulkan 1 pekan setelah pembelajaran rekreatif.
e. Pembuatan Media Game Pembelajaran
Dunia sudah tidak lepas dari teknologi khususnya HP Androin. Guru maupun siswa tidak bisa menghindar 100% dari bneda ini. Maka untuk menyalurkan kegemaran mereka guru bisa membuat game sederhana yang berisi tentang tema tertentu sesuai KD, baik berupa tebak gambar, menyambung kata, ular tangga, rantai makanan dan lain sebagainya
ConversionConversion EmoticonEmoticon